ILMU MIROTS
By : Anas Mas’udi El Malawi
Pendahuluan
Islam adalah agama universal. Semua sisi kehidupan umatnya diatur dalam syariatnya. Mulai dari hubungannya dengan Sang Pencipta, dengan sesame, dengan makhluq hidup lainnya sampai dengan lingkungan hidupnya. Demikian itu demi tercapainya kehidupan yg sejahtera dan makmur, aman, tenteram dan sentosa.
Dalam kitab suci al Qura’an, Islam mengelompokkan aturan kehidupan umat menjadi tiga bagian besar yg masing-masing memiliki kajian tersendiri, yaitu ibadah (interaksi dg Tuhan), mu’amalah (perniagaan) dan mu’asyarah (interaksi antar sesama makhluq dan lingkungan). Di antara pembahasan mu’amalah adalah masalah warisan. Di mana sekarang dimasukkan dalam kajian al alhwal al syakhshiyyah.
Asas Islam Dalam Hukum Warisan
1. Islam agama yg adil berada di antara dua perinsip yg terbilang ekstrim, yaitu kapitalis dan sosialis. Di mana Islam memberikan aturan kusus dalam hal kepemilikan.
2. Islam menetapkan hukum waris dalam urusan keluarga dan memberikan bagian warisan pada suami dan isteri sebagaimana memberikan bagian pada kerabat mayit lainnya.
3. Islam tidak memberikan bagian orang yg bukan kerabat mayit, seperti anak angkat, anak hasil dari pernikahan yg tidak sah dan anak zina. Islam juga tidak menetapkan warisan dengan cara bersumpah atau akad tertentu.
4. islam secara umum telah menetapkan bagian tertentu bagi masing-masing ahli waris yg berhak, seperti ½, ¼, 1/6, 1/8, 1/3 dan 2/3.
5. islam tidak membedakan ahli waris yg ada, baik kaya atau miskin, dewasa atau masih balita, bahkan janin yg masih dalam kandungan mendapat bagian jika dinyatakan hidup.
6. Islam memberikan bagian warisan pada perempuan. Di mana pada zaman jahilyyah dulu perempuan sama sekali tidak diberi hak waris, bahkan ia disamakan dg harta yg diwaris.
Dasar Hukum Waris
Hukum waris ditetapkan berdasarkan al Qur’an, hdits, ijma’ dan ijtihad sahabat. Dalil dari al Qur’an antara lain : QS. Al Nisa’ : 7-8, 11-12, 176, QS. Al Anfal : 75. Adapun dalil dari hadis : “Al Hiquu al Faroidho Bi Ahlihaa, Famaa Baqiya Fahuwa Li Aula Rajulin Dzakarin” (HR. Imam Bukhari & imam Muslim). Rukun Hukum Waris
Ialah ada tiga, yaitu :
1. Mayit : Orang yg benar sudah meninggal atau orang yg bepergian jauh yg tidak bisa diketahui lagi informasi kehidupannya, hingga ditetapkan oleh hakim kalau dia sudah meninggal.
2. Ahli waris : Orang yg ada hubungan kerabat dengan mayit melalui salah satu sebab dari hukum waris.
3. Harta warisan : Peninggalan mayit yg bernilai harta secara syariat.
Syarat Hukum Waris
Ialah ada tiga, yaitu :
1. Meninggalnya mayit baik secara hukum atau benar-benar meninggal.
2. Hidupnya ahli waris saat meninggalnya mayit.
3. Tidak adanya penghalang untuk menerima warisan.
Sebab-Sebab Hukum Waris
Ialah ada tiga, yaitu :
1. Pernikahan: Akad nikah yg sah menurut syari’at, baik sudah melakukan HI (hubungan intim) atau belum.
2. Kerabat : Keturunan mayit (lk/pr), bapak-ibu kandung, kakek-nenek, saudara-saudari kandung/sebapak/seibu dan paman-bibi dr bapak/ibu.
3. Kekuasaan : kekuasaan secara hukum yg diperoleh dari membebaskan budak (hamba sahaya)
Penghalang Hukum Waris
Ialah ada tiga, yaitu :
1. Budak : Setatus lemah secara hukum yg ada pada seseorang yg menyebabkan ia tidak bisa menerima warisan. Budak tidak berhak menerima warisan karena ia tidak punyak hak milik dan semua hartanya adalah milik tuannya.
2. Membunuh : Ulama berbeda pendapat. Menurut madzhab Syafi’iyyah “membunuh dengan degala bentuk dan motifnya bisa menghalangi hokum waris”. Menurut madzhab Malikiyyah “ membunuh dengan sengaja bisa menghalangi hokum waris, dan membunuh tanpa sengaja tidak menghalanginya”. Menurut madzhab Hanafiyyah “membunuh yg mengharuskan hokum qishash dan bayar kaffarah bisa menghalangi hokum waris, yaitu membunuh dg sengaja atau mirip sengaja, atau tidak sengaja”. Menurut madzhab Hambaliyyah “membunuh yg mengharuskan hokum qishash, bayar kaffarah atau bayar diyat bisa menghalangi hokum waris”.
3. Beda agama : Menurut madzhab Syafi’iyyah dan Hanafiyyah “semua agama selain Islam dianggap satu agama. Orang yahudi bisa mewarisi familinya Nasrani dan sebaliknya”. Menurut Malikyyah “ Islam agama tersendiri, Yahudi agama tersendiri, Nasrani agama tersendiri dan agama selain yg tersebut dianggap satu agama”. Menurut Hanbaliyyah “setiap agama yg ada di permukaan bumi ini merupakan agama tersendiri dan terpisah antara satu dengan lainnya”.
Ahli Waris
Ahli waris dikelompokkan menjadi dua kelomok, yaitu ahli waris dari kerabat laki-laki dan ahli waris dari kerabat perempuan.
Ahli waris dari kerabat laki-laki ada 15 orang. Mereka adalah : 1. Anak kandung lk. 2.Cucu lk. 3. Bapak kandung. 4. Kakek dr bpk. 5. sdr kandung. 6. sdr sebpk. 7. Sdr seibu. 8. Anak lk dr sdr kandung. 9. Anak lk dr sdr sebpk. 10. Paman (sdr kandung bpk). 11. Paman (sdr sebpknya bpk). 12. Anak lk dr Paman (sdr kandung bpk). 13. Anak lk dr Paman (sdr sebpknya bpk). 14. Suami. 15. Mu’tiq (org lk yg membebaskan budak).
Adapun ahli waris dari kerabat perempuan ada 10 orang, yaitu : 1. Ibu. 2. Anak kandung pr.
3. Cucu pr dr anak lk. 4. saudari kandung. 5. Sdri sebpk. 6. Sdri seibu. 7. Nenek dr bpk. 8. Nenek dr ibu. 9. Isteri. 10. Mu’tiqah (org pr yg membebaskan budak).
Jika semua ahli waris laki-laki berkumpul dalam satu permasalahan hokum waris, maka yg paling berhak menerima warisan adalah tiga orang, yaitu : Suami, Anak kandung lk dan bapak kandung. Jika semua ahli waris perempuan berkumpul dalam satu permasalahan hukum waris, maka yg paling berhak menerima warisan adalah lima orang, yaitu : Ibu, Isteri, Anak kandung pr, cucu pr dr anak lk dan sdri kandung. Jika semua ahli waris laki-laki dan perempuan berkumul dalam satu permasalahan hukum waris, maka yg paling berhak menerima warisan adalah lima orang, yaitu : Suami/isteri, Anak kandung lk, anak kandung pr, ibu kandung dan bapak kandung.
Sedangkan hokum waris sendiri dalam perakteknya ada empat cara, yaitu :
1. dengan bagian pasti.
2. dg bagian ‘ashobah (sisa dr bagian pasti).
3. dg rodd (hasil pembagian kurang dr asal maslah).
4. dengan hak kekeluargaan (dzawil arham).
Hukum Waris Dengan Bagian Pasti
1. ½ : Adalah bagian lima orang, yaitu : Suami, Anak kandung lk, cucu pr dr anak lk, saudari kandung dan saudari sebapak.
2. ¼ : Adalah bagian dua orang, yaitu : Suami dan Isteri.
3. 1/3 : Adalah bagian tiga orang, yaitu : Ibu, saudara seibu dan saudari seibu.
4. 1/6 : Adalah bagian delapan orang, yaitu : Bapak, Ibu, Kakek dr bpk, Nenek dr bpk/ibu, cucu dr anak lk, Saudari sebapak, Saudara seibu dan saudari seibu.
5. 1/8 : Adalah bagian seorang, yaitu Isteri.
6. 2/3 : Adalah bagian empat orang, yaitu : Anak kandung pr, cucu pr dr anak lk, saudari kandung dan saudari sebapak.
TABLE WARISAN
NO
PENERIMA BAGIAN PASTI
BAGIAN PASTI
SYARAT
PENGHALANG
1.
Suami
½
Tidak ada keturunan mayit (lk/pr)
¼
Adanya keturunan mayit (lk/pr)
2.
Bapak kandung
1/6
Adanya keturunan mayit lk
1/6 + ‘ashobah
Adanya keturunan mayit pr
‘ashobah
Tidak ada keturunan mayit (lk/pr)
3.
Kakek dr bapak
1/6
Tidak ada bpk/kakek yg lbh dkt- bersama keturunan mayit lk
Bapak kandung-kakek dr bpk yg lbh dkt
1/6 + ‘ashobah
Tidak ada bpk/kakek yg lbh dkt-bersama keturunan mayit pr
‘ashobah
Tidak ada bpk/kakek yg lbh dkt-tidak ada keturunan mayit (lk/pr)
4.
Saudara lk/pr seibu
1/3
Tdk ada enghalang-bersama dg saudara seibu lain/saudari seibu
Keturunan mayit (lk/pr)-bpk kandung-kakek dr bpk
1/6
Tdk ada penghalang-tdk ada sdr/sdri seibu lain
5.
Ibu kandung
1/3
Tdk ada keturunan mayit (lk/pr)-tdk ada sdr/sdri mayit org/lbh
1/3 dr sisa bgian
Bersama bpk & suami/isteri-tdk ada ahli waris lain
1/6
Bersama keturunan mayit (lk/pr)-bersama sdr/sdri mayit dua/lbh
6.
Nenek dr bpk/ibu
1/6
Tdk ada bpk-tdk ada ibu-tdk ada nenek/kakek yg lbh dkt
Bapak kandung-ibu kandung
7.
Saudari kandung
½
Tdk ada keturunan mayit (lk/pr)-tdk ada bpk-tdk ada sdr/sdri kandung lain
Keturunan mayit lk-bpk kandung
2/3
Bersama sdri kandung lain-tdk ada keturunan mayit (lk/pr)-tdk ada sdr kandung
‘ashobah bil ghair
Bersama sdr kandung-tdk ada keturunan mayit (lk/pr)-tdk ada bpk
‘ashobah ma’alghoir
Tdk ada bpk-tdk ada keturunan mayit lk-bersama keturunan mayit pr
8.
Saudari sebapak
2/3
Bersama sdri sebpk lain -tdk ada sdr sebpk-tdk ada keturunan mayit (lk/pr) -tdk ada penghalang
Keturunan mayit lk-bpk kandung-sdri kandung 2 org/lbh-sdr kandung-sdri kandung satu bersama keturunan mayit pr
½
Tdk ada keturunan mayit (lk/pr)-tdk ada bpk-tdk ada sdr/sdri sebpk lain-tdk ada sdr/sdri kandung
1/6
bersama sdri kandung satu- tdk ada keturunan mayit (lk/pr) -tdk ada penghalang
‘ashobah bilghoir
Bersama sdr sebpk- tdk ada keturunan mayit (lk/pr) -tdk ada penghalang
‘ashobah ma’alghoir
Bersama keturunan mayit pr- tdk ada sdri sebpk lain-tdk ada keturunan mayit lk -tdk ada penghalang
9.
Anak kandung pr mayit
½
Tdk bersama anak kandung lk/pr lain
2/3
Bersama anak kandung pr lain-tdk ada anak kandung lk
‘ashobah bilghoir
Bersama anak kandung lk
10.
Cucu pr dr anak lk
2/3
Bersama cucu pr dr anak lk lain-tdk ada cucu lk dr anak lk-tdk ada anak mayit (lk/pr)
Anak mayit lk-anak mayit pr 2 org/lbh
½
Tdk ada anak mayit (lk/pr )-tdk ada cucu lk/pr dr anak lk lain
1/6
Tdk ada anak lk/pr mayit-tdk ada cucu lk/pr dr anak lk lain-tdk ada penghalang-bersama anak kandung pr mayit
‘ashobah bil ghair
Bersama cucu lk-tdk ada penghalang
11.
Isteri
¼
Tdk ada keturunan mayit (lk/pr)
1/8
Bersama keturunan mayit (lk/pr)
Di samaikan di KBRI-Trioly-libya Jum'at 29 Juni 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar